Komoditi Kehutanan
Tugas Ekonomi
Sumberdaya Hutan Medan,
April 2019
MANFAAT
EKONOMI KOMODITI KEHUTANAN
ROTAN (Calamus sp)
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko,
S.Hut., M.Si.
Disusun Oleh:
Ramadhani
Syafitri
171201025
Hut 4B
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2019
1. Pengertian
Rotan adalah sekelompok palma dari puak (tribus)
Calameae yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus,
Daemonorops,
dan Oncocalamus. Puak Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus
anggota, dengan daerah persebaran di bagian tropis Afrika,
Asia dan Australasia.
Ke dalam puak ini termasuk pula marga Salacca
( misalnya salak),
Metroxylon (misalnya rumbia/sagu),
serta Pigafetta
yang tidak memanjat, dan secara tradisional tidak digolongkan sebagai tumbuhan
rotan.
Batang rotan biasanya
langsing dengan diameter 2–5 cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan
banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi
sebagai alat pertahanan diri dari herbivora,
sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan
dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika
ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas. Badak jawa
diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya.
Sebagian besar rotan
berasal dari hutan di Indonesia, seperti Sumatra,
Jawa, Borneo,
Sulawesi,
dan Nusa Tenggara.
Indonesia memasok 70% kebutuhan rotan dunia. Sisa pasar diisi dari Malaysia,
Filipina,
Sri Lanka,
dan Bangladesh.
Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah
dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu menjaga kelestarian hutan,
karena orang lebih suka memanen rotan dari pada kayu.
2. Klasifikasi
1.
Kingdom: Plantae
2. Phylum: Tracheophyta
3. Class: Magnoliopsida
4. Ordo: Arecanae
5.
Family: Palmae
6. Genus: Calamus
7. Species: Calamus manan
3. Morfologi
HHBK ini dikenal sebagai
tanaman yang tumbuh merambat atau memanjat pada pohon – pohon besar sebagai
penopangnya. Hal ini disebabkan oleh adanya sulur pemanjat rotan yang muncul
dan tumbuh dari ruas-ruas batang tumbuhan ini dengan panjang yang
bervariasi. Beberapa rotan tidak memiliki sulur, namun memiliki duri-duri
di sepanjang batangnya yang membantu rotan untuk memanjat atau merambat.
Batangnya sendiri
berbentuk bulat atau segitiga memanjang yang panjangnya dapat mencapai puluhan
meter. Panjang dan diameternya sangat bervariasi tergantung jenisnya. Batang
tumbuhan ini beruas-ruas dan dibatasi oleh buku-buku. Bagian batang tumbuhan
ini merupakan bagian yang paling sering dimanfaatkan dan bernilai ekonomi
tinggi.
Bedasarkan cara tumbuh
batangnya, tumbuhan ini dapat dikelompokan menjadi dua bagian yaitu tumbuh
soliter/tunggal dan tumbuh berumpun. Tumbuhan yang tumbuh soliter hanya dipanen
satu kali dan tidak dapat beregenerasi kembali dari tunggul yang terpotong,
sedangkan yang tumbuh berumpun dapat beregenerasi kembali dan tumbuh terus
menerus. Rumpun terbentuk oleh berkembangnya tunas-tunas yang dihasilkan dari
kuncup ketiak pada bagian bawah batang.
Pada batang terdapat daun
majemuk dan pelepah daun yang tumbuh menutupi ruas-ruas batang. Panjang, lebar,
dan bentuk daun juga sangat bervariasi tergantung jenisnya. Seperti halnya
dengan tumbuhan lainnya, daunnya memiliki fungsi fotosintesis. Selain itu
daunnya juga memiliki duri-duri kecil sebagai bentuk pertahanan diri. Daun ini
umumnya tumbuh mengahadap ke dalam sebagai penguat mengaitkan batang pada
tumbuhan penopangnya atau inangnya.
Tumbuhan ini termasuk tumbuhan berbunga
majemuk yang terbungkus oleh seludang. Bunga jantan dan bunga betina pada
umumnya berumah satu, namun terdapat beberapa jenis rotan yang bunganya berumah
dua. Pada jenis bunga yang berbunga dua, penyerbukan dibantu oleh serangga
ataupun angin. Bunganya memiliki ukuran yang relatif kecil dan memiliki 3 putik
pada bunga betina, sedangkan bunga jantan mempunyai 5 benang sari. Tumbuhan ini
juga memiliki buah yang berbentuk bulat, bulat oval, atau lonjong. Buahnya
memiliki sisik buah berbentuk trapesium dan tersusun secara vertikal dari
toksis buah.
Sistem perakaran rotan
berupa sistem perakaran serabut. Warna akarnya juga bervariasi mulai dari putih
keabu-abuan, kekuning-kungan hingga kehitam-hitaman.
4. Pemanfaatan
Rotan
Rotan yang dikenal sebagai green
product juga dikenal sebagai produk multifungsi karena memiliki banyak
manfaat. Batangnya yang sudah tua banyak dimanfaatkan dalam pembuatan kerajinan
tangan dan perabotan rumah tangga. Tumbuhan ini juga dapat digunakan sebagi
ikat pinggang bagi wanita suku Wemale yang berasal dari Pulai Seram, Provinsi
Maluku.
Batangnya juga dapat digunakan untuk
membuat tongkat penyangga berjalan bahkan senjata. Beberapa perguruan pencak
silat bahkan menggunakan tumbuhan ini sebagai salah satu alat untuk latihan bertarung.
Ekstrimnya batangnya juga digunakan sebagai alat pemukul dalam hukuman cambuk
bagi pelaku tindak kriminal tertentu di Asia Tenggara.
Batangnya yang masih muda atau
berwarna hijau biasa dimanfaatkan sebagai sayuran bagi masyarakat Suku Dayak di
Kalimantan Tengah. Masyarakat Suku Mandailing di Sumatra Utara juga
memanfaatkan pucuk mudanya sebagai sayuran/lalapan yang mereka sebut pakkat.
Selain dapat dikonsumsi manusia, rotan muda juga menjadi makanan favorit satwa
liar yaitu badak. Batang muda, buah, dan akarnya juga dapat dimanfaatkan untuk
bahan baku obat tradisional. Beberapa jenis tumbuhan ini yang batang mudanya
dapat dimanfaatkan meliputi Calamus Hookerianus, Calamus metzianus, dan
Calamus thwaitesii.
Batangnya yang menyimpan banyak air
dapat ditebas dan mengeluarkan air yang dapat diminum secara langsung. Cara ini
pada umumnya digunakan oleh para petualang atau penjelajah untuk bertahan hidup
di alam bebas.
Tumbuhan ini juga mengasilkan getah pada bagian tangkai
bunganya yang berwarna merah sehingga sering disebut “darah naga”. Getahnya ini
bisasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku pewarna pada industri keramik dan
farmasi. Selain itu, getahnya juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna biola
atau gitar.
Rotan memang memiliki manfaat langsung yang sangat banyak,
namun selain itu tumbuhan ini juga memiliki manfaat tidak langsung. Manfaat
tidak langsung tersebut berupa kontribusi dalam peningkatan pendapatan
masyarakat dan penyerapan tenaga kerja di sekitar hutan dalam bidang
usaha-usaha pemanfaatan rotan. Tumbuhan ini juga sangat bermanfaat sebagai
habitat atau tempat berlindung bagi semut dalam helaian daun, duri maupun
batanganya.
Batangnya merupakan bagian
yang paling sering dimanfaatkan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Batang yang dimanfaatkan adalah batang yang tidak lagi berwarna hijau,
melainkan berwarna kuning atau sudah tua. Pemanfaatannya di bidang furniture
termasuk pemanfaatan yang sangat potensial karena tumbuhan ini sendiri memiliki
beberapa keunggulan dari pada kayu yang umumnya digunakan dalam bidang
furniture. Kelebihan tumbuhan ini di antaranya ringan, kuat, elastis, atau
mudah dibentuk dan murah.
Selain memiliki kelebihan,
tumbuhan ini juga memiliki kelemahan yaitu mudah diserang kutu bubuk pin
hole dan jamur Blue Stain. Terdapat dua metode yang digunakan
untuk pengawetannya yaitu pemasakan dengan minyak tanah untuk rotan berukuran
sedang/besar dan pengasapan dengan belerang untuk yang berukuran kecil. Tidak
semua jenis tumbuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan
furniture. Beberapa yang umum dipergunakan dalam industri adalah Manau, Batang,
Tohiti, Mandola, Tabu-Tabu, Suti, Sega, Lambang, Blubuk, Jawa, Pahit, Kubu,
Lacak, Slimit, Cacing, Semambu, serta Pulut. Batang tumbuhan ini di bidang
furniture banyak dimanfaaatkan sebagai bahan baku pembuatan perabot rumah
tangga seperti mebel, kursi, meja, rak, penyekat ruangan, tempat tidur, lemari
dan lain sebagainya. Selain dimanfaatkan dalam bahan baku pembuatan perabotan
rumah, rotan juga dimanfaatkan dalam pembuatan hiasan-hiasan.
Rotan yang dianyam menjadi
tikar merupakan salah satu produk yang bernilai ekonomi tinggi, terlebih jika
rotan tipis-tipis dan halus. Produk seperti ini akan sangat diminati oleh
pencinta barang antik. Anyaman produk ini sering dimanfaatkan sebagai penahan
panas terik matahari yang dipasang di ventilasi rumah maupun perkantoran. Perkembangan
indutsri furniture rotan di Indonesia sangat berpotensi karena
tumbuhan ini merupakan komoditi yang secara alami tumbuh dan tersebar di
wilayah Indonesia. Pada tahun 1994, Indonesia menjadi negara penghasil rotan
terbesar di dunia karena mampu memasok (ekspor) tumbuhan ini dalam
jumlah yang besar.
Harga ekspor bahan baku
rotan mentah maupun setengah jadi masih jauh lebih rendah jika dibandingakan dengan
harga ekspor hasil industri furniture-nya. Selain itu,
industri furniture tumbuhan ini termasuk industri yang tidak
memerlukan investasi atau modal besar. Industri furniture rotan di
Indonesia selain didukung oleh jumah bahan mentah yang melimpah, potensi tenaga
kerja yang cukup banyak juga dapat mendukung industri furniture. Industri furniture
rotan Indonesia juga pernah mengalami penurunan. Pada tahun 2007, beberapa
produsen meubel rotan di Cirebon yang menjadi salah satu industri rotan
terbesar selain Surabaya mengalami penurunan produksi. Salah satu penyebab
terjadinya hal tersebut adalah sulitnya memperoleh bahan baku yang berkualitas,
sedangkan negara-negara pesaing dengan mudah memperolehnya. Akibatnya banyak usaha-usaha
furniture ini harus gulung tikar. Penurunan industri pengolahan
rotan, baik yang terjadi pada skala nasional maupun di sentra industri Cirebon
sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2005. Diduga penyebabnya adalah
dikeluarkannya SK Menteri Perdagangan No. 12/M-DAG/PER/6/2005 tentang Ketentuan
Ekspor Rotan, yang memperbolehkan ekspor bahan baku rotan dan rotan setengah
jadi mengakibatkan industri pengolahan rotan di dalam negeri sulit mendapatkan
bahan baku. Di pihak lain, negara-negara pesaing mudah mendapatkan bahan baku
karena diduga adanya ekspor bahan baku rotan ke luar negeri secara ilegal.
Referensi
Ramadhan A.
2009. Analisis daya saing industri furniture rotan di Indonesia
[skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB
https://id.wikipedia.org/wiki/Rotan
http://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-ciri-ciri-morfologi-rotan/
[diunduh pada 2019 APR 7 pukul 09.00 WIB]

Komentar
Posting Komentar